Emsatunews.co.id, Pemalang – Penanganan pascabencana di Jawa Tengah kini tak lagi sekadar berkutat pada pembangunan fisik dan distribusi logistik. Di balik puing infrastruktur yang rusak, terdapat trauma mendalam yang harus segera disembuhkan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pun mengambil langkah progresif dengan menggencarkan layanan psikososial dan trauma healing bagi warga terdampak, khususnya kaum ibu dan anak-anak.
Pemandangan menyejukkan terlihat di Posko Pengungsian Kantor Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Jumat (30/1). Suara tawa anak-anak yang tengah menonton film animasi dan bernyanyi bersama memecah kesunyian posko. Suasana kian cair saat Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, hadir di tengah-tengah mereka. Orang nomor satu di Jawa Tengah itu tak canggung melontarkan candaan yang disambut dialog manja dari para pengungsi cilik tersebut.
Meski nampak ceria di siang hari, bayang-bayang kelam bencana belum sepenuhnya hilang dari ingatan para penghuni pengungsian. Lisna, salah seorang petugas layanan di lokasi, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar muncul ketika hari mulai gelap.”Secara umum anak-anak sudah mulai bisa bercanda. Namun, trauma itu kerap muncul saat malam hari atau ketika hujan kembali turun. Mereka takut akan terjadi bencana susulan,” ujar Lisna di sela pendampingannya.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Jateng, Ema Rachmawati, membenarkan kondisi tersebut. Pihaknya menemukan kasus anak yang sempat terpisah dari orang tuanya saat bencana melanda, sebuah pengalaman yang meninggalkan bekas luka psikologis mendalam.”Kami terjunkan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) yang melibatkan psikolog dan lembaga sosial. Melalui kegiatan melukis dan konseling, kami berupaya membuat mereka kembali merasa aman,” terang Ema saat mendampingi Gubernur.
Tak hanya anak-anak, para ibu juga menjadi sasaran utama. Tekanan psikologis akibat ketidakpastian kondisi rumah dan kebosanan di pengungsian diredam dengan aktivitas produktif, termasuk keterlibatan di dapur umum. Bagi perempuan yang kehilangan anggota keluarga, pemerintah telah menyiapkan konseling intensif yang bersifat berkelanjutan.
Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan bahwa pemulihan mental adalah bagian integral dari operasi kemanusiaan. Ia menginstruksikan seluruh instansi terkait untuk bersinergi tanpa sekat.”Semua tim kami turunkan. Mulai dari RSUD Margono Soekarjo hingga tim trauma healing dari Polda. Fokus kami adalah memastikan anak-anak tetap memiliki semangat untuk kembali bersekolah dan masyarakat tidak larut dalam kecemasan,” tegas Luthfi.
Upaya pemulihan terpadu ini juga terpantau dilaksanakan di Kabupaten Purbalingga. Langkah komprehensif ini diharapkan mampu mengembalikan kestabilan emosional warga, sehingga proses rehabilitasi fisik nantinya dapat berjalan beriringan dengan pemulihan batin para penyintas. **( Joko Longkeyang)















