Emsatunews.co.id, Pemalang – Sanksi tegas dijatuhkan oleh manajemen SMK Negeri 1 Pemalang terhadap siswanya yang terlibat dalam skandal pelecehan digital. DRA, seorang siswa kelas 11 yang juga menjabat sebagai Ketua OSIS, resmi dikeluarkan dari sekolah setelah terbukti memanipulasi foto teman-temannya menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI).
Tindakan asusila berbasis teknologi ini terendus pada Senin (4/5/2026), saat salah seorang saksi menemukan galeri berisi foto-foto siswi yang telah dimanipulasi menjadi tanpa busana di ponsel milik pelaku. Kasus ini pun seketika viral dan menjadi perhatian serius di Kabupaten Pemalang.
Keputusan Final: Pelaku Dikembalikan ke Orang Tua
Kepala SMK Negeri 1 Pemalang, Edi Wasito, S.Pd., M.Si., bersama jajaran kesiswaan telah mengambil langkah drastis. Berdasarkan klarifikasi yang dilakukan pada Rabu (6/5/2026), pihak sekolah memutuskan untuk memutus status kepesertaan didik DRA.”Setelah melalui proses pemanggilan orang tua, pihak keluarga sepakat untuk menarik anak tersebut. Terhitung sejak saat ini, yang bersangkutan sudah bukan lagi menjadi bagian dari siswa SMK Negeri 1 Pemalang,” tegas Edi Wasito, S.Pd., M.Si.,
Dikenal Santun, Guru Mengaku Syok
Terungkapnya identitas pelaku sebagai Ketua OSIS meninggalkan luka mendalam bagi pihak sekolah. Selama ini, DRA dikenal sebagai figur teladan yang memiliki kepemimpinan bagus, sopan, dan pendiam. “Tidak ada yang menyangka. Dia siswa yang sangat tertib. Kejadian ini benar-benar membuat kami kaget, terutama saat melihat banyaknya jumlah korban yang mencapai 17 siswi,”imbuh Nurul Faidah wakil kepala sekolah hubungan masyarakat dan hubungan industri. Meski diduga hanya untuk koleksi pribadi, tindakan tersebut dinilai melanggar etika berat dan mencederai martabat sekolah.
Langkah Pemulihan 17 Korban
Pihak sekolah kini berupaya keras memulihkan ekosistem belajar yang aman. Didampingi oleh Dwi Rakhmawati, S.Psi., M.Pd., Guru BK dan phisikolog dan guru BK Lainnya Devi Nuranita, S.Pd., M.Pd., serta bantuan psikolog Kabupaten Pemalang dari Dinsos, para korban kini menjalani pendampingan intensif.
Masih kata Edi Wasito, kangkah-langkah yang diambil sekolah antara lain: Trauma Healing: Memberikan ruang konseling privat bagi para siswi terdampak. Jaminan Keamanan: Memastikan tidak ada perundungan lanjutan di lingkungan sekolah. Literasi Digital: Memperketat pengawasan penggunaan gawai dan edukasi bahaya penyalahgunaan AI.
Edi Wasito menegaskan bahwa prioritas utama sekolah saat ini adalah kesembuhan mental para korban agar mereka tetap dapat melanjutkan pendidikan tanpa rasa trauma atau malu.( Joko Longkeyang).















