EMSATUNEWS.CO.ID, BREBES – Di tengah riuhnya tuntutan pembentukan Kabupaten Brebes Selatan, muncul satu nama yang konsisten berada di garis depan: Agus Sutiono.
Di usianya ke-46 tahun, tapi semangatnya untuk pemekaran belum pernah padam. Bagi Agus, ini bukan sekadar politik. Ini adalah pengabdian.
Dari 2005 Hingga Hari Ini: Rekam Jejak yang Tak Bisa Dibantah
Agus bukanlah pendatang baru. Sejak 2005 ia sudah terlibat dalam gerakan pemekaran. Dominasinya semakin terlihat saat ia menjabat Sekretaris Jenderal Komite Pemekaran pada 2025.
Memasuki 2026, ia kini memimpin Aliansi Perjuangan Pemekaran Kab. Brebes sebagai Ketua Umum.
“Mencurahkan diri untuk pemekaran adalah wakaf perjuangan saya,” tegas Agus.
Kalimat itu lahir bukan untuk mencari simpati. Ia lahir dari pengalaman panjang yang ditempa di organisasi partai politik maupun organisasi pemekaran.
Dari rekam jejak itulah yang membuat ia paham betul seluk-beluk dan ritme politik pemekaran.
Kapasitas, Intelektualitas, dan Sikap Bijak
Dengan portofolio yang mumpuni, Agus memahami bahwa pemekaran bukan soal berteriak paling keras. Ia harus dijalankan dengan strategi dan ketenangan.
Kematangannya sebagai aktivis dan politikus membuatnya memilih untuk tidak reaktif.
Ia memilih untuk tidak membuang energi meladeni komentar-komentar debatabel yang hanya memecah fokus. “Hambatan di lapangan ada. Tapi kita hadapi dengan bijak, bukan dengan emosi,” lanjutnya.
Garis Merah: Tanpa Negosiasi, Tanpa Kompromi
Di sinilah letak pondasi moral yang ia bangun. Menurutnya, perjuangan ini punya satu garis merah: tidak ada ruang untuk negosiasi dan kompromi yang mengorbankan tujuan.
“Perjuangan ini harus menang. Tidak boleh kalah oleh iming-iming jabatan dan uang,” ujarnya.
Baginya, pemekaran adalah warisan. Warisan perjuangan para pendahulu yang merintisnya dengan darah dan keringat.
“Pemekaran itu proses estafet peradaban. Harus dilakukan dengan terhormat, bersih, dan bermartabat,” pungkasnya.
Penutup: Cinta pada Tanah Kelahiran
Bagi Agus Sutiono, pengabdiannya adalah bentuk rasa syukur dan cinta pada tanah kelahiran. Ini adalah babak manis dari dedikasi panjang seorang aktivis lokal untuk Brebes Selatan.
Selama 46 tahun ia hidup, 20 tahun lebih ia abdikan untuk satu tujuan. Dan selama garis moral itu dijaga, perjuangan DOB Brebes Selatan akan terus hidup dan terus digelorakan bahkan akan terus diestafetkan ke generasi berikutnya, sampai apa yang dicita-citakan bisa segera terwujud.***















