Berita UtamaDaerahNasionalPemalang

Kolaborasi Maut Jateng-Kaltim: Teken Kerja Sama Rp 20,2 Triliun Demi Lepas dari Ketergantungan Pusat

Joko Longkeyang
8
×

Kolaborasi Maut Jateng-Kaltim: Teken Kerja Sama Rp 20,2 Triliun Demi Lepas dari Ketergantungan Pusat

Sebarkan artikel ini

SAMARINDA, Emsatunews.co.id– Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Kalimantan Timur resmi mencetak sejarah baru lewat kolaborasi antardaerah yang masif. Sebanyak 19 dokumen kerja sama strategis dengan potensi ekonomi fantastis mencapai Rp 20,2 triliun resmi diteken di Odah Etam, Kompleks Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Kota Samarinda, Kamis (6/8/2026).

​Langkah besar ini digadang-gadang menjadi solusi taktis di tengah ketidakpastian geopolitik global dan keterbatasan fiskal daerah. Kemitraan tersebut tidak hanya bertujuan memperkuat rantai pasok nasional, tetapi juga memangkas ketergantungan daerah terhadap dana transfer dari pemerintah pusat.

Advertisement

​Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) ini dilakukan langsung oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud. Usai penandatanganan tingkat tinggi tersebut, jajaran kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), hingga asosiasi dari kedua provinsi langsung menindaklanjutinya dengan perjanjian kerja sama teknis.”Hari ini kita melakukan MoU dan PKS bagi potensi wilayah antara Jawa Tengah dan Kalimantan Timur. Per tahun, dari 10 OPD kita menghasilkan potensi Rp 20,27 triliun,” tegas Ahmad Luthfi di hadapan para pejabat yang hadir.

​Luthfi menekankan, kesepakatan bernilai jumbo ini tidak boleh sekadar menjadi macan kertas atau tumpukan dokumen administratif semata. Seluruh pihak diinstruksikan untuk bergerak cepat merealisasikan program nyata agar masyarakat di kedua wilayah bisa segera merasakan dampaknya secara langsung.”MoU dan perjanjian kerja sama ini harus segera kita realisasikan kegiatannya, sehingga dengan adanya keterbatasan fiskal dan geopolitik dunia, kita mampu eksis membangun wilayah,” imbuhnya.

Baca Juga :  Hadir Di Jamnas Disabilitas, Ahmad Luthfi Katakan Jateng Jadi Percontohan Nasional

​Sektor Pangan hingga Raksasa Perbankan Turun Gunung

​Potensi ekonomi senilai Rp 20,2 triliun ini merupakan akumulasi dari berbagai sektor vital yang saling menopang keunggulan masing-masing daerah.

​Di sektor pangan, Jawa Tengah siap menjadi pemasok utama kebutuhan pokok Kalimantan Timur. Tercatat ada potensi pasokan 6.119 ton beras, 778 ton telur, 873 ton daging ayam, hingga 321,6 ton bawang merah dengan estimasi nilai transaksi mencapai Rp 237,75 miliar. Belum lagi sektor peternakan dan kesehatan hewan yang diperkirakan menyumbang Rp 2,1 triliun per tahun.

​Kontribusi terbesar dalam kolaborasi ini lahir dari sektor keuangan. Sinergi antara Bank Jateng dan Bank Kaltimtara memegang takhta tertinggi dengan perkiraan aktivitas bisnis mencapai Rp 15 triliun per tahun. Selain itu, kolaborasi Jamkrida Jateng dan Jamkrida Kaltim melalui skema co-guarantee turut memperkuat dukungan terhadap proyek-proyek strategis di Ibu Kota Nusantara (IKN) senilai Rp 1,34 triliun.

Baca Juga :  Mudik Lebaran Kondusif, Gubernur Luthfi Apresiasi Petugas: "Negara Hadir di Tengah Masyarakat"

​Sektor industri, perdagangan, kelautan, perikanan, hingga pariwisata dan ekonomi kreatif juga turut ambil bagian dengan estimasi transaksi miliaran rupiah setiap tahunnya.

​Saling Melengkapi: Kaltim Punya SDA, Jateng Kuasai Manufaktur

​Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menyambut hangat terobosan ini. Ia menilai kerja sama tersebut sebagai model ideal hubungan antaretnis dan wilayah yang saling melengkapi (complementary). Kaltim unggul dalam kekayaan sumber daya alam (SDA), sementara Jateng tangguh di sektor industri pengolahan, manufaktur, dan UMKM.

​”Ini terobosan luar biasa dan mudah-mudahan bisa dicontoh provinsi-provinsi lain di Indonesia, sehingga daerah tidak terus bergantung pada APBN maupun dana transfer pusat,” puji Rudy.

​Sebagai gambaran nyata, Kalimantan Timur selama ini bergantung pada pasokan ribuan ton beras dari Jawa Tengah. Sebaliknya, roda industri di Jawa Tengah sangat membutuhkan pasokan 1,5 juta ton batu bara per tahun dari Kaltim untuk pembangkit listrik, serta pasokan Crude Palm Oil (CPO) sebagai bahan baku industri.

​”Penduduk Kaltim sekitar 4,2 juta jiwa, sedangkan Jawa Tengah mencapai 38 juta jiwa. Kami memiliki batu bara dan CPO yang melimpah, sementara Jawa Tengah memiliki kekuatan industri. Karena itu, kolaborasi ini saling melengkapi dan memberi manfaat bagi kedua daerah,” pungkasnya. *( Joko Longkeyang).