EMSATUNEWS.CO.ID, JAKARTA – Peran negara dalam sistem ekonomi sangat vital karena menentukan arah, kualitas, dan masa depan perekonomian. Ketika kekuasaan politik gagal membangun institusi yang kuat serta merusak aturan main dan norma-norma bernegara, dampaknya tidak hanya dirasakan dalam kehidupan politik, tetapi juga dapat menghancurkan iklim usaha, investasi, dan kegiatan ekonomi produktif.
Hal tersebut disampaikan Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, Ph.D., dalam tulisannya berjudul Politik Jangan Membunuh Bisnis. Ia mengingatkan bahwa praktik kekuasaan yang merusak institusi negara berpotensi menciptakan ketidakpastian ekonomi dan melemahkan kepercayaan dunia usaha.
“Jika peranan negara buruk, maka aturan main, undang-undang dan norma-norma yang dibangun akan rusak dan berpotensi merusak ekonomi. Jadi, harus dihindari praktek bernegara seperti ini agar jangan sampai politik membunuh bisnis,” tulis Didik.
Menurutnya, negara yang gagal pada dasarnya merupakan negara yang tidak mampu membangun institusi secara baik. Salah satu penyebabnya adalah kepemimpinan yang terlalu otoritatif, merasa paling mengetahui segala hal, dan mengambil keputusan secara sepihak tanpa melibatkan teknokrat maupun para ahli.
Didik mengaitkan fenomena tersebut dengan pemikiran Daron Acemoglu dan James A. Robinson dalam buku Why Nations Fail. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa kegagalan suatu negara bukan terutama disebabkan oleh faktor geografis, alam, budaya, ataupun ketidaktahuan, melainkan oleh kekuasaan politik yang tersentralisasi di tangan segelintir elite tanpa kontrol dan keseimbangan (checks and balances).
Lebih jauh, Didik menjelaskan bahwa negara dengan institusi yang lemah cenderung menunjukkan gejala asimetri informasi dan budaya Asal Bapak Senang (ABS). Iklim ketakutan yang diciptakan pemimpin otoritatif membuat para teknokrat, ahli, dan birokrat enggan menyampaikan kondisi sebenarnya. Akibatnya, informasi buruk disembunyikan, sementara laporan yang disampaikan hanya berisi hal-hal yang menyenangkan penguasa.
Kondisi tersebut juga dapat menghambat kreativitas dan inovasi. Menurut Didik, kekuasaan yang merasa paling mengetahui segala hal justru berpotensi mematikan proses creative destruction, yaitu pembaruan dan inovasi yang diperlukan untuk mendorong kemajuan ekonomi. Pemikiran baru dari para ahli dapat dianggap sebagai ancaman terhadap status quo ekonomi maupun stabilitas politik rezim.
Kolusi Kekuasaan dan Bisnis Memicu Oligarki
Didik menilai politik dapat membunuh bisnis ketika kekuasaan, kebijakan pemerintah, dan kepentingan penguasa justru menghancurkan iklim usaha serta kegiatan ekonomi produktif. Ia menyoroti praktik kolusi antara penguasa dan kelompok bisnis tertentu yang berpotensi melahirkan oligarki, monopoli, pemburuan rente, hingga pembajakan kebijakan publik.
Hubungan transaksional antara kekuasaan dan kelompok bisnis tertentu dapat membuat kebijakan negara tidak lagi berpihak pada kepentingan publik. Dalam situasi tersebut, kekuasaan bahkan dapat dikendalikan oleh kepentingan bisnis dari luar pemerintahan.













