Emsatunews.co.id, Brebes– Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengambil langkah cepat dalam menangani bencana tanah gerak yang melanda Dukuh Bojongsari, Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa keselamatan ratusan warga yang terdampak menjadi prioritas utama melalui percepatan pembangunan hunian sementara (huntara) serta rencana relokasi permanen.
Dalam kunjungannya ke lokasi pengungsian di Pondok Pesantren Bahrul Qur’an Al Munawir, Rabu (18/2/2026), Ahmad Luthfi menginstruksikan agar warga tidak kembali ke rumah masing-masing demi menghindari risiko jatuhnya korban jiwa.”Prioritas kita adalah memindahkan orang dan barang ke tempat yang aman. Saya minta warga tetap di sini demi keselamatan bersama. Urusan pemindahan barang akan dibantu oleh tim gabungan TNI, Polri, dan BPBD,” ujar Luthfi saat memimpin rapat koordinasi penanganan bencana.
Dampak Kerusakan dan Langkah Teknis
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Brebes, fenomena alam ini mengakibatkan 10 rumah rusak berat dan 124 rumah lainnya dalam posisi terancam. Kerusakan juga menyasar dua tempat ibadah, dua fasilitas pendidikan, serta amblesnya jalan desa sepanjang 700 meter.
Guna menentukan titik relokasi yang aman, Pemprov Jateng menggandeng Badan Geologi dan Dinas ESDM untuk melakukan kajian teknis. Saat ini, lahan petak 34G milik KPH Perhutani Pekalongan Barat diproyeksikan sebagai lokasi huntara yang representatif.”Pola penanganan akan mengadopsi keberhasilan relokasi di wilayah lain seperti Banjarnegara dan Cilacap. Begitu pindah, warga harus dipastikan tetap bisa menjalankan aktivitas ekonomi dan sosialnya,” tambah Luthfi.
Dukungan Logistik dan Kelompok Rentan
Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma, mengapresiasi respons taktis dari Pemerintah Provinsi. Saat ini, kebutuhan pangan warga dipenuhi melalui dapur umum yang didanai oleh anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT). Mengingat momentum menjelang Ramadan, Gubernur juga mengingatkan petugas agar menyiapkan kebutuhan sahur, buka puasa, hingga takjil bagi para pengungsi.
Di sisi lain, perhatian khusus diberikan kepada kelompok rentan. Warga seperti Susi Susanti yang mengungsi bersama bayinya berharap pasokan kebutuhan dasar seperti perlengkapan mandi dan susu tetap terjaga. Sementara itu, warga lainnya berharap proses relokasi permanen dapat segera terwujud agar mereka bisa terlepas dari rasa cemas setiap kali hujan deras mengguyur wilayah perbukitan Sirampog.
Hingga saat ini, tim gabungan terus melakukan pemantauan intensif mengingat pergerakan tanah masih terpantau aktif di lereng dengan kemiringan ekstrem tersebut.**( Joko Longkeyang).















