PEMALANG, Emsatunews.co.id – Aroma air mawar, pelukan erat yang melepas rindu, dan luruhnya air mata kebahagiaan mengiringi tibanya rombongan jemaah haji Kloter 11 di Pendopo Kabupaten Pemalang, Minggu (7/6/2026). Di balik riuh rendah sukacita keluarga yang menjemput, ada gema spiritual yang kuat yang dibawa kembali dari tanah tandus jazirah Arab menuju bumi Pemalang.
Di Pendopo Kabupaten Pemalang, Bupati Anom Widiyantoro berdiri tegak. Kali ini, ia tidak sekadar menyambut seorang pejabat, melainkan menjemput kembali tandem birokrasinya, Wakil Bupati Pemalang Nurkholes, yang baru saja menuntaskan perjalanan batin paling sakral dalam hidupnya yaitu menunaikan rukun Islam yang ke lima naik haji ke Baitullah di Mekah.
Penyambutan penuh kehangatan itu juga dihadiri oleh jajaran Forkopimda, Penjabat Sekretaris Daerah Endro Johan Kusuma, para Kepala OPD, serta Ketua TP PKK dr. Noor Faizah Maenofie dan Wakil Ketua TP PKK Sri Indah Lestari.
Keteguhan di Tengah Ujian Fisik
Bagi Nurkholes, kembali ke tanah air adalah muara dari sebuah perjuangan fisik dan spiritual yang panjang. Mengenakan kain yang merepresentasikan kesucian, ia menyalami satu per satu jajaran yang telah menantinya.”Alhamdulillah, seluruh rukun haji yang wajib maupun sunah dapat kami tunaikan tanpa kurang satu apa pun. Memang cuaca di sana cukup ekstrem hingga saya sempat terserang flu, namun itu hanyalah riak kecil yang tidak mengurangi kekhusyukan kami,” cerita Nurkholes dengan mata berkaca-kaca.
Selama bersujud di Ka’bah dan melangitkan doa di Raudah, Nurkholes mengaku tidak pernah melupakan daerah yang dipimpinnya. Ia terus mendoakan agar masyarakat Kabupaten Pemalang senantiasa dianugerahi kemakmuran, kedamaian, dan lepas dari segala jerat kesulitan ekonomi.
Bupati Anom Widiyantoro yang mendengarkan penuturan tersebut langsung memberikan ucapan selamat yang mendalam.”Selamat kembali ke rahim tanah air dan berkumpul bersama keluarga besar. Kami semua berharap, perjalanan spiritual ini melahirkan berkah baru bagi kepemimpinan di Pemalang dan menjadikan Bapak sebagai haji yang mabrur,” ucap Anom lembut.
Sebuah Doa untuk yang Tak Kembali
Namun, selalu melihat bahwa di setiap perayaan, kerap kali ada sunyi yang ditinggalkan. Sukacita di pendopo siang itu perlahan merunduk ketika Bupati Anom mengalihkan pandangannya untuk mengenang satu jiwa jemaah haji asal Pemalang yang tidak ikut pulang karena mengembuskan napas terakhirnya di Tanah Suci.
Di tengah kehangatan penyambutan, Anom memimpin doa bersama untuk menghormati almarhum.”Kepergian beliau di saat mengenakan ihram dan memanggil nama Sang Pencipta adalah sebuah akhir hidup yang dicemburui. Itu adalah sebuah kemuliaan tertinggi,” kata Anom dengan nada suara yang memberat.
Pertemuan hari itu di Pemalang bukan lagi sekadar laporan kedatangan warga dari luar negeri. Ia menjelma menjadi panggung kemanusiaan; tempat di mana rasa syukur atas sebuah kepulangan, berbaur secara anggun dengan keikhlasan atas sebuah kehilangan.*( Joko Longkeyang).















