Berita Utama

Sosok Arief, Guru MI Mantan Loper Koran Raih Doktor UIN Walisongo

emsatunews.co.id
10
×

Sosok Arief, Guru MI Mantan Loper Koran Raih Doktor UIN Walisongo

Sebarkan artikel ini
Moh. Miftahul Arief ketika mempertahankan disertasinya pada sidang promosi doktoral UIN Walisongo Semarang. (Foto: all dok)

EMSATUNEWS.CO.ID, SEMARANG – Moh. Miftahul Arief, guru MI Miftahul Akhlaqiyah Ngaliyan, Semarang, resmi meraih gelar Doktor Studi Islam dari UIN Walisongo Semarang setelah berhasil mempertahankan disertasinya, dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor Program Studi S-3 Studi Islam Pascasarjana UIN Walisongo, Rabu 30 September 2026.

Ujian terbuka yang dipimpin langsung Rektor UIN Walisongo, Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag. itu menetapkan Arief lulus sebagai doktor dengan nilai disertasi nyaris sempurna, yakni 3,98.

“Kepadanya diberi gelar Doktor Studi Islam, dan merupakan doktor ke-456 yang telah diluluskan oleh UIN Walisongo,” kata Prof. Musahadi.

Namun ternyata capaian tersebut tidak pernah benar-benar ia bayangkan sejak awal. Bahkan delapan tahun lalu, menyaksikan orang lain menjalani ujian terbuka doktor saja sudah menjadi kebahagiaan tersendiri baginya.

Baca Juga :  "Apel Kok Duduk?" Gubernur Luthfi Ajak Kepala Daerah Kompak Hujan-Hujanan di Semarang

“Saya tak pernah bermimpi jadi doktor. Dulu, mengantar famili yang ujian terbuka sudah senang sekali bisa foto di photobooth-nya. Tapi tak terbesit kuliah S-3, mengingat usia sudah tidak muda dan biaya yang dibutuhkan juga tidak sedikit,” ungkapnya pria berusia 45 tahun itu.

Loper Koran hingga Mengelola Madrasah

Perjalanan Arief menuju gelar doktor berlangsung jauh dari kata mudah. Semasa kuliah, ia pernah berjualan koran di lampu merah Kalibanteng, samping museum Ranggawarsito Semarang, untuk membantu membiayai hidup dan pendidikannya.

Saat mulai menjadi guru pada 2005, ia juga harus menjalani pekerjaan lain. Pagi hingga siang mengajar, kemudian menjaga salah satu outlet Toko Buku Gramedia Pandanaran Semarang hingga pukul 22.00 WIB.

Baca Juga :  Pemkab Pemalang Perkuat Sinergi Bersama Wartawan

“Saat menjadi guru MI, pagi mengajar, siang hingga malam menjaga outlet di Gramedia Pandanaran. Saat itu yang saya pikirkan sederhana, bagaimana tetap bisa belajar sambil bekerja,” kenang pengurus MUI Kota Semarang itu.

Menurutnya, menjalankan pekerjaan apapun sah-sah saja asal halal dan thayib (bagus), bersama istrinya, bermodal satu komputer ‘jadul’ ia juga pernah menjalankan usaha pengetikan komputer di rumahnya. Prinsip itu juga menantarnya tetap melakoni pekerjaan sampingan hingga saat ini sebagai sopir taksi online, yang dianggapnya memiliki manfaat ganda, yakni mencari uang dan memperluas relasi.