Tipologi kedua adalah Balanced-Moderate, yakni madrasah yang menggabungkan mutu akademik, pendidikan karakter, dan keterjangkauan layanan.
“Tipologi ketiga adalah Achievement-Inclusive. Model ini mengutamakan prestasi akademik maupun nonakademik, tetapi tetap inklusif dan terbuka bagi berbagai lapisan masyarakat,” ujarnya.
Sementara tipologi keempat adalah Grassroots-Authentic yang bertumpu pada kedekatan sosial masyarakat, budaya lokal, dan nilai-nilai keagamaan yang hidup di lingkungan madrasah.
“Setiap madrasah tidak harus menjadi sama. Mereka dapat memilih model yang paling sesuai dengan karakter masyarakat, lingkungan, dan kekuatan yang dimiliki masing-masing,” tegasnya.
Penelitian tersebut juga menemukan fenomena Demand Surplus Indicator berupa sistem inden pendaftaran, loyalitas keluarga lintas generasi, serta rekomendasi wali murid yang berkembang secara organik, termasuk melalui ruang digital.
Dari temuan itu, Arief melihat bahwa promosi hanya akan efektif jika berjalan beriringan dengan mutu layanan dan kepercayaan masyarakat.
“Madrasah yang berhasil bukan yang paling gencar berpromosi. Madrasah yang berhasil adalah madrasah yang mampu menghadirkan mutu dan kepercayaan secara konsisten,” pungkasnya.
Pembelajar Sejati dengan Kemampuan Menulis di Atas Rata-Rata
Secara terpisah, Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Muhyar Fanani, M.Ag., memberikan apresiasi atas kegigihan Arief dalam menempuh dan menyelesaikan pendidikan doktoralnya.













