Menurut Prof. Muhyar, Arief merupakan sosok pembelajar yang mampu menjadikan setiap fase kehidupan sebagai ruang untuk tumbuh dan mengembangkan diri.
“Dr. Arief adalah seorang pembelajar sejati. Setiap langkahnya dapat dijadikannya sebagai media belajar. Saya teringat dengan perkataan almarhum Prof. Satjipto Rahardjo bahwa seorang intelektual itu berbicara dengan pena. Dr. Arief benar-benar mempraktikkan hal ini,” ujar Prof. Muhyar.
Tak hanya itu, Prof. Muhyar juga memberikan penilaian khusus terhadap kemampuan literasi dan kepenulisan Arief yang selama ini menjadi salah satu kekuatannya.
“Kemampuan menulisnya di atas rata-rata mahasiswa kami,” tegasnya.
Menurut Prof. Muhyar, kemampuan tersebut menjadi modal penting bagi Arief untuk terus berkiprah dan memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat melalui madrasah maupun dunia pendidikan.
Ia meyakini pengalaman Arief sebagai guru, pengelola madrasah, jurnalis, penulis, dan praktisi pendidikan akan memperkuat kontribusinya dalam menjawab berbagai tantangan pendidikan yang terus berkembang dari waktu ke waktu.
“Saya yakin, Dr. Arief akan bisa berkiprah dalam banyak hal bagi masyarakat melalui madrasah dan dunia pendidikan secara luas. Tugas dalam dunia pendidikan tidak pernah ada habisnya. Tantangan muncul silih berganti. Selama masih ada manusia, pendidikan akan selalu dibutuhkan,” lanjutnya.
Prof. Muhyar menambahkan, perubahan zaman mungkin akan memengaruhi pendekatan dan metode pendidikan. Namun, hakikat pendidikan tetap tidak berubah, yakni membentuk manusia yang memiliki akal budi dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.
“Mungkin caranya akan berubah. Namun, prinsipnya tetap sama yaitu mempertajam akal budi anak manusia agar mampu menata hidupnya dengan bijaksana,” pungkasnya.*













