“Beberapa perawat sampai hafal. Mereka sering melihat saya membuka laptop dan menulis disertasi di sela-sela menjaga ibu,” lanjutnya.
Ada satu harapan yang selama ini ia simpan. Ia ingin ibunya menyaksikan langsung momen promosi doktor yang telah diperjuangkannya selama bertahun-tahun.
“Harapan saya ibu bisa menyaksikan promosi doktor ini. Namun Allah memiliki rencana lain. Tepat setahun yang lalu ibu telah lebih dahulu berpulang,” tuturnya.
Karena itu, Arief memandang gelar doktor yang kini disandangnya memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar capaian akademik.

“Doktor ini bukan hanya milik saya. Ada doa, pengorbanan, dan perjuangan ibu saya, perempuan hebat hebat yang tak lulus Madrasah Aliyah dan memeras keringat demi pendidikan anak-anaknya,” katanya sambil berkaca-kaca.
Temukan Empat Tipologi MI di Perkotaan
Dalam ujian promosi doktor tersebut, Arief mempertahankan disertasi berjudul Urban Marketing: Strategi Pemasaran Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada Masyarakat Perkotaan.
Sidang promosi dipimpin Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag. selaku ketua sidang dan penguji, didampingi Prof. Dr. H. Abdul Rohman, M.Ag. sebagai sekretaris sidang dan penguji.
Adapun promotor disertasi adalah Prof. Dr. H. Fatah Syukur, M.Ag., dengan ko-promotor Prof. Dr. Fahrurrozi, M.Ag. Sementara penguji lainnya terdiri atas Dr. Hj. Sari Hernawati, S.Ag., M.Pd. selaku penguji eksternal, Prof. Dr. H. Raharjo, M.Ed., St., Dr. H. Karnadi, M.Pd., serta Dr. Siti Tarwiyah, S.S., M.Hum.
Penelitian Arief berangkat dari fenomena menurunnya jumlah siswa Madrasah Ibtidaiyah di sejumlah kota besar di Pulau Jawa. Di sisi lain, beberapa MI di Kota Semarang justru menunjukkan pertumbuhan positif.













