Scroll ke Atas
Berita Utama

Sapi Potong Mendominasi, Gubernur Luthfi Serukan Kontes Sapi Perah demi Atasi Krisis Susu Jateng

Joko Longkeyang
9
×

Sapi Potong Mendominasi, Gubernur Luthfi Serukan Kontes Sapi Perah demi Atasi Krisis Susu Jateng

Sebarkan artikel ini

Emsatunews.co.id, Wonosobo – Sektor peternakan Jawa Tengah tengah bersiap menghadapi transformasi besar. Setelah lama dikenal sebagai lumbung daging sapi nasional, kini fokus pembangunan diarahkan untuk mengejar ketertinggalan produksi susu. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, secara resmi menggagas perlunya digelar kontes sapi perah sebagai stimulus inovasi bagi para peternak lokal.

Advertisement

Gagasan strategis tersebut dilontarkan Gubernur saat menghadiri pembukaan Kontes Sapi Asosiasi Peternak dan Penggemuk Sapi Indonesia (APPSI) Jawa Tengah Season 3 di arena Wonoland, Kabupaten Wonosobo, pada Sabtu (25/4/2026). Acara bergengsi ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, termasuk Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, dan Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat.

Dalam sambutannya, Ahmad Luthfi menyoroti ketidakseimbangan fokus kompetisi peternakan selama ini. Menurutnya, sebagian besar kontes sapi di daerah hanya menonjolkan kategori sapi potong, padahal urgensi pemenuhan kebutuhan susu domestik sangat tinggi.“Selama ini mata kita terlalu tertuju pada sapi potong. Padahal, tantangan terbesar kita ada pada susu. Ke depan, wajib ada kontes sapi perah. Ini penting untuk memacu adrenalin peternak menghasilkan ternak penghasil susu berkualitas tinggi,” tegas Ahmad Luthfi di hadapan ratusan peserta kontes.

Baca Juga :  Ciptakan Rasa Disiplin Dan Cinta Tanah Air Babinsa Latih Upacara dan PBB

Data yang dipaparkan Gubernur menunjukkan realitas yang kontras. Hingga awal 2026, populasi sapi di Jawa Tengah mencapai 1,38 juta ekor. Dominasi sapi potong sangat mencolok dengan jumlah 1,29 juta ekor, sementara sapi perah hanya tersisa sekitar 85,8 ribu ekor. Imbasnya, produksi daging telah menyentuh angka 980 ribu ton per tahun dan hampir mencukupi kebutuhan nasional. Namun, cerita berbeda terjadi di sektor persusuan.“Jawa Tengah itu kuat di daging, tapi ‘teringgal’ di susu. Ini pekerjaan rumah yang harus segera kita selesaikan,” ujar Luthfi.

Ia memberikan contoh nyata adanya kesenjangan pasokan di tingkat industri. Salah satu pabrik pengolahan susu di Kabupaten Batang tercatat membutuhkan pasokan hingga 80.000 liter susu segar per hari, namun kapasitas produksi peternak lokal belum mampu memenuhi permintaan tersebut. Akibatnya, ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah atau impor masih tinggi.

Menanggapi hal ini, Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, yang hadir dalam acara tersebut memberikan dukungan penuh. Ia menekankan bahwa peningkatan populasi sapi perah adalah kunci untuk mengurangi defisit neraca perdagangan komoditas susu dan daging.“Target kita jelas: kurangi impor setiap tahunnya. Maka, akselerasi populasi sapi, baik potong maupun perah, harus terus didorong. Peternak adalah ujung tombaknya,” kata Sudaryono.

Baca Juga :  KPK Warning! Kepala Daerah dan DPRD Diminta Waspadai Potensi Korupsi dalam Penyusunan APBD 2026

Senada dengan itu, Ketua MPR RI Ahmad Muzani menilai ajang seperti kontes APPSI bukan sekadar seremonial, melainkan sarana transfer ilmu dan teknologi bagi peternak. Ia melihat potensi besar di wilayah Wonosobo dan sekitarnya untuk dikembangkan menjadi sentra sapi perah terintegrasi.“Kami akan terus mendorong agar populasi sapi meningkat sehingga kebutuhan masyarakat bisa dipenuhi secara mandiri tanpa bergantung pada pihak luar,” pungkas Muzani.

Sebagai langkah konkret menuju target swasembada pangan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Jateng 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah meluncurkan berbagai program turunan. Mulai dari distribusi bibit unggul, penyediaan pakan berkualitas, hingga layanan kesehatan hewan berbasis jemput bola atau healing. Program kesehatan keliling ini dirancang untuk memastikan kondisi ternak tetap prima, terutama menjelang momen Iduladha.

Dengan adanya dorongan menggelar kontes sapi perah ini, diharapkan ekosistem peternakan Jawa Tengah dapat bertransformasi menjadi lebih seimbang, mampu menyuplai kebutuhan daging dan susu secara mandiri, serta menyejahterakan peternak lokal.**( Joko Longkeyang).

 

(Tim Redaksi)