Berita UtamaNasional

Diskusi Meja Bundar Para Pakar: “Integrasi Sains, Politik, dan Etika dalam Pembangunan Kawasan dan Tata Kelola Batas-Batas Ekologis di Indonesia”

Fahroji
27
×

Diskusi Meja Bundar Para Pakar: “Integrasi Sains, Politik, dan Etika dalam Pembangunan Kawasan dan Tata Kelola Batas-Batas Ekologis di Indonesia”

Sebarkan artikel ini

“Dekolonisasi bukan berarti meromantisasi pengetahuan lokal, tetapi membangun kemampuan berpikir kritis yang bebas dari bias Eurosentris sekaligus memulihkan berbagai cara pandang yang selama ini dipinggirkan” tambah Wardah.

Ia juga memperkenalkan pendekatan Doughnut Framework yang menunjukkan bahwa banyak negara berkembang bukan kekurangan pembangunan, melainkan mengalami eksploitasi sumber daya secara berlebihan (overexploited).

Advertisement

Editor Senior Ekuatorial.com & Ketua Umum SIEJ 2023 – 2026, Joni Aswira Putra, menyoroti pentingnya peran media dalam membangun kesadaran publik terhadap perubahan iklim. Menurutnya, pemberitaan kebencanaan di Indonesia masih terlalu berorientasi pada peristiwa dan belum banyak mengulas akar persoalan ekologis.

Baca Juga :  Ipda Martikno, Personil Polsek Bojong Polres Pekalongan Dapatkan Kenaikan Pangkat Pengabdian

“Media seharusnya menjadi bagian dari infrastruktur mitigasi bencana, bukan hanya melaporkan ketika bencana sudah terjadi” tegasnya.

Direktur Ekonomi Digital CELIOS, Nailul Huda, menambahkan bahwa biaya ekonomi akibat kerusakan lingkungan jauh lebih besar dibandingkan manfaat ekonomi jangka pendek dari eksploitasi sumber daya alam.

Baca Juga :  Sudah Seperti Teror Bom Lakalantas Ply Over Kretek, Brebes Bukan Lakalantas Biasa

Ia mencontohkan bagaimana daerah-daerah pertambangan justru menghadapi peningkatan kemiskinan, biaya kesehatan, dan kerentanan terhadap bencana.

“Kalau seluruh biaya kesehatan, kehilangan produktivitas, dan kerusakan lingkungan dihitung, keuntungan ekonomi dari sektor ekstraktif menjadi jauh lebih kecil daripada yang selama ini diklaim,” ujarnya.